Diarsipkan di bawah: Uncategorized
KEMBARA DI UJUNG MASA
Avignon, 8 januari 2008…
Sudut jambatan Avignon, jembatan yang menjadi kebanggan bangsa Prancis ini menjadi pilihan untukku merenung. Entahlah, beberapa hari ini begitu terasa melankolis bagiku, seakan aku rindu akan sesuatu. Anganku melayang tanpa batas dihiasi indahnya horison cakrawala yang memecah langit, aliran sungai seine bagai sayatan dalam, membelah kota yang begitu memanjakan kemolekan seni dan ilmu pengetahuan, Paris Raya. Hampir tiga tahun, aku meninggalkan tanah kelahiranku. Aku terbilang anak yang beruntung dibandingkan anggota keluargaku yang lain, bahkan mungkin dengan warga desa sekampungku sekalipun, akulah yang paling beruntung. Lulus SMU, aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi ke kota seni dunia dengan tanggungan kedutaan Prancis untuk Indonesia.
Matahari mulai hangat ketika aku mendongakkan kepalaku memandang burung-burung yang melayang bebas. Akan tetapi seakakan kehangatan itu membenamkanku semakin dalam dalam lamunan, semua itu membuatku semakin terpaku menikmati pemandangan indah kota ini. Lalulalang tongkang yang membawa berton-ton ikan melintas hilir mudik membelah sungai meninggalkan riak halus menambah suasana tenang dalam hatiku.
Berkali-kali aku melintasi kota-kota di negeri ini, provence, languedoc, nimes, carcassonne, dan yang lainnya, akan tetapi tempat inilah yang selalu mempu membuatku merenung dan berfikir dalam buayan hangatnya ketenangan .
Matahari terus meninggi, hingga rasanya terik mulai menusuk-nusuk kulitku. Jam 12.49, aku mulai merasa perlu beranjak mencari tempat yang lebih teduh. Langkah kakiku nenyusuri jalan-jalan besar kota tanpa tujuan yang pasti, terus terayun melenggang diatas bata-bata berhias yang sengaja ditanam demi memparindah kota. Menungku menggelayut begitu tebal dan gelap layaknya awan yang ingin memuntahkan beban tanggungannya ke muka bumi. Langkahku terhenti hingga aku menemukan seorang pria tua berkursi roda, tampak sulit sekali baginya mengayuh setiap jengkal yang ditempuhnya.
“Bonjour!” Aku menyapanya sesopan yang aku bisa, karena begitulah budaya negeri ini. Aku mengingat bahwa negeriku senantiasa berkoar mengatakan bahwa “Penduduk negeri ini ramah tamah dan bersopan santun dengan adat ketimuran dan sebagainya…dan sebagainya…”, mungkin memang dibeberapa tempat ada yang demikian akan tetapi aku tidak menemukan keadaan layaknya disini di ibukota negeriku . Orang-orang berkelas atau rendahan memiliki citarasa pergaulan yang aku merasa layaknya di rumah sendiri, hingga kini aku benar-benar memahami istilah yang dulu pernah aku dengar “Tiap orang memiliki dua rumah—rumahnya sendiri dan Prancis”.
“Bonjour!” Ia membalas sapaanku dengan tidak kalah sopan padahal aku yakin usianya berlipat lebih dari tiga kali usiaku.
“Comment allez-vous?“
“Bien, merci! et vous?”
“Je, bien!”
“Puis je vous vervir?” aku menawarkan diri untuk menemaninya menempuh perjalanan
“Avec plaisir!”
Begitu mudahnya orang disini diakrabi. Hingga aku tidak merasa asing di negeri ini.
Indahnya dinding-dinding Norte dame menghiasi sepanjang mata memandang. Aku terus mendengarkan keluh sesah kehidupannya. Tentang anak-anaknya, keluarganya, tentang kehidupan masa tuanya yang begitu sepi. Hingga akhirnya kami membicarakan keadaan umat agamaku, muslim, aku merasa malu mendengarkan penuturannya. Bukan…, bukan karena buruknya agamaku akan tetapi aku malu atas diriku. Walaupun dia beragama katolik, akan tetapi ia begitu menghargai kebesaran budaya Islam dan menaruh perhatian yang besar, sementara aku menelantarkannya begitu saja. Aku mendengarkan setiap penuturannya.
“Tahukah engkau, negeri angkuh ini dulu pernah bertekuk di hadapan rajamu di turki?” Aku memang pernah mendengar bahwa Prancis pernah memohon pertolongan kepada negara islam turki untuk membantu membebaskan raja Prancis yang ditawan musuh dalam peperangan, aku menjawab :
“Ya.”
“Apa yang kamu lihat hari ini?—mereka dengan mengatas namakan sekularisme sebagai alat, dengan pongah menghinakan agamamu yang dulu pernah menolong rajanya.”
Sejenak waktu mengalun begitu saja, tanpa satu katapun.
“Bukannya aku tak mencintai negeriku, akan tetapi ada kekecewaan dalam hatiku.” Dia melanjutkan.
“Bolehkah aku tahu, apa itu?” Kata itu meloncat begitu saja dari bibirku yang sekedar ingin tau.
Aku memang tertarik dengan hal-hal seacam ini, aku teringat saat terlibat dalam aksi demonstrasi menentang kebijakan itu. Kira-kira dua atau tiga tahun yang lalu entahlah, aku telah lupa kapan pastinya ketika Jaques Shirac melontarkan ide gila itu.
Saat itu aku tidak benar-benar menyadari bahwa hal ini telah mendiskreditkan Islam akan tetapi aku bergerak karena dorongan hak asasi manusia yang aku yakini harus diperjuangkan. Hingga hari ini aku baru menyadari hal itu.
“Lihatlah dia,–ia menunjuk seorang wanita muda diseberang jalan—dia saudaramu, kan?” sedikit tergagap aku menjawab,
“Bu, bukan kurasa!”.
“Aku heran denganmu, bukankah agamamu mengajarkan antara kalian adalah bersaudara?” ia menyanggah ucapanku.
“Oh…, iya” ada rasa malu dalam hatiku.
“Bagaimana anda tahu dia seorang muslimah?” aku bertanya sekedar untuk menutupi rasa maluku.
“Aku tahu dari cara dia berbusana, walaupun tidak menggunakan penutup kepala, pakaiannya menunjukkan dia bukan wanita kebanyakan”. Ia terus berbicara…dan aku terus mendengarkan setiap penuturannya.
Kami terus menelusuri jalan-jalan besar dikota ini hingga menjelang sore hari dengan banyak perbincangan yang membangunkan rasa maluku terhadap tuhanku.
Lorong-lorong mulai gelap ketika aku mengantarkannya kembali pulang.
Kulewati malam itu dengan kegundahan dan renungan yang mendalam, aku rindu masa-masa kecilku, surau yang biasa kugunakan untuk berkumpul mengaji bersama teman-temanku hingga setiap kecap ucap yang terlontar dari ayahku.
Aku ingat tahu-tahun terakhir sebelum ayahku tutup usia, ia berkata padaku.
“Nak, dengarlah ayahmu ini. Aku memang tak sepandai engkau dalam berilmu, aku memang tak secerdas engkau dalam berfikir, tapi ada hal yang aku merasa harus terucap dari bibir orang bodoh ini. Dengarlah…, dalam diri mu mengalir darahku dan ibumu, dalam sifatmu bercampur watakku dan watak ibumu, aku tak rela jika engkau lupa akan Tuhanmu. Sungguh Dia pasti marah kepadaku jika engkau melakukannya. Darahku yang ada padamu akan terbakar bersama jasadku, dan aku tak menghendaki hal itu. Jagalah ibumu, saat aku tak lagi terlihat oleh mata kasarmu, begitu pula adik-adikmu. Aku menginginkan perkumpulan suci keluarga kita kelak di akhirat ditempat yang mulia selayaknya keluarga Ammar bin Yasir. Aku tidak takut dan tidak merasa sedih meninggalkan dunia, yang aku takutkan adalah terpisahnya kita kelak di akhirat. Ingatlah ini, dan jagalah ini…”
Seketika aku tersadar akan semua itu dan mataku tenggelam dalam kesedihan dan penyesalan hingga terlepasnya kesaadaranku.
***
Jam 04.00 aku terbangun, memang tidak seperti biasanya, hari ini aku mulai melakukan solat subuh lagi setelah entah berapa lama aku tinggalkan. Dua raka’at ini ku lewati dengan cucuran air mata, dengan isakan yang dalam dan fikiran yang tertuju hanya pada satu kata, “kematian”, entahlah, aku merasa begitu dekatnya kematianku sementara selama ini aku tak lagi mengingatnya. Aku ingat ustadz di surau dulu pernah berkata.
“Kematian itu bagaikan serigala, ia mengintai mangsanya dari tempat yang tersembunyi hingga tak terlihat oleh pandangan. Ia menunggu saat-saat yang tepat dan menyergap tiba-tiba sementara mangsanya banar-benar tak menyadari dia sudah tak hidup didunia lagi…”.
“Oh, Tuhan, berdosanya aku selama ini padamu, maafkanlah aku…”
Hari ini jadwal kuliah pertemuanku dengan beberapa profesor sejarah, Galerie des clases (balai cermin) , dan istana Fontainbleu di Versailles tertulis dalam agendaku hari ini. Kedua bangunan dengan gaya arsitektur gotic ini menarik perhatian begitu banyak arsitek muda untuk mengkaji kedalaman falsafahnya, termasuk aku. Berjam-jam aku habiskan di sana, mengamati setiap lekuk seni yang begitu detail dan indah, tiang-tiang basar berhias, atap berukir dan segala pernik rumit yang ada padanya selalu mampu menumbuhkan minatku.
14.29 aku langkahkan kaki ku menjauh dari jejak sejarah kota Versailles, melewati jalan-jalan besar dengan tramp. Melewati Notre dame, jembatan avignon, dan sela-sela kepadatan kota.
Menjelang sore, aku berangkat menemui kerabat rekan kuliahku di pedesaan di kaki pegunungan Pyrenee, sudah beberapa kali aku melewati hari-hari liburku di sana. Pukul 20.08 aku sampai di batas persimpangan jalan yang tak lagi tersentuh kendaraan-kendaraan besar, kendaraan tradisional semacam andong, tapi lebih sederhana,kurasa. Ukurannya besar dan ditarik beberapa ekor lembu. Melewati ladang-ladang yang gelap tanpa cahaya.
Pukul 21.00 seperti perkiraanku, aku sampai di rumah singgah sederhana namun begitu nyaman dan tenang. Keluarga besar salahuddin menyambutku dengan senyuman yang paling manis, seperti biasa.
Aku dipersilahkan masuk dan beristirahat.
***
Abdullah, anak lelaki bungsu dari keluarga salahuddin membangunkanku kira-kira pukul 02.30.
“Ka, mari kita solat malam, semoga Alloh memberikan kemudahan hidup dengannya bagi kita”. Aku mulai tersadar dari lelapku dan mulai lagi meneteskan air mata.
“Aku malu…, aku benar-benar malu pada mu atas hari-hariku!”
“Malulah hanya kepada Alloh. Mohonlah pertolongan dan ampunan kepada Nya. Sesungguhnya dia begitu dekat, mendengar setiap keluhan kesah dan harapan di waktu-waktu seperti ini, marilah, Ka!”
Aku beranjak dari hangatnya belaian alas tidurku. Hingga subuh aku terjaga, berbincang tentang makna hidup yang lama telah aku lupakan. Merunduk aku dihadapan seorang anak berusia sembilan tahun, berusaha menggali makna kehidupan. Oh,… aku benar-benar bodoh, dan telah jumawa dengan ilmu duniaku. Abdullah melantunkan kisah hijrah rosul yang begitu syarat makna pengorbanan hidup.
“Dengarlah Ka, besok adalah tanggal 1 muharram, momentum tegaknya peradaban Islam pertama yang dibina Rosullulloh yang mulia. Marilah kita turut serta berhijrah, membangun semangat, cita-cita dan merangkai harapan dengan perencanaan hari esok yang lebih baik.”
Mataku tenggelam dalam samudera keharuan ketika abdullah berkata layaknya ayahku pernah berkata.
“Jangan siakan mari-harimu dengan mengejar sesuatu yang fana, arahkan tenaga dan fikiranmu tidak hanya untuk hidup duniamu, sesungguhnya setiap detakan, helaan, kedipan, kecapan, dan belaian akan dimintai pertanggungjawaban. Sementara kita tidak tahu kapan hari itu mendatangi kita. Bermohonlah kepada Alloh agar Dia mau meridoi hidup kita…”.
[Prancis, 10 januari 2008, Memoar hidup baru]
* Bonjour : selamat siang
comment allez-vous : apa kabar
Bien, merci! et vous : baik, dan bagai mana pula keadaanmu
Je, bien : saya baik juga
Puis je vous vervir : bolehkah saya membantu anda
Avec plaisir : dengan senang hati
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Kebanyakan kita, tidak sadar akan hal ini…
Shalat kita, puasa kita, shodaqoh kita, atau amalan lainnya yang kita anggap sebuah kebaikan tentu belum pasti statusnya. Apakah Alloh terima ataukah tidak, karena terkadang kita tidak hirau akan syarat-syarat dan hati yang ikhlas. tapi coba perhatikan dan renungkan, kemaksiatan tidak perlu syarat apapun sehinga satu kemaksiatan pasti tercatat sebagai satu kemaksiatan tapi amal sholeh belum tentu menjadi amalan sholeh dihadapan Alloh.
Coba pikirkan, hal yang sederhana ini…